Bahwa suatu pekerjaan dikatagorikan sebagai profesi jika terdapat asosiasi profesi, kode etik dan perlu pendidikan khusus. Wartawan

Bahwa suatu pekerjaan dikatagorikan sebagai profesi jika terdapat asosiasi profesi, kode etik dan perlu pendidikan khusus. Seseorang yang memiliki profesi tertentu disebut profesional. Wartawan merupakan profesi, oleh karene itu orang yang bekerja sebagai wartawan disebut profesional.

Berdasarkan pernyataan tersebut diatas menurut saya seperti ada yang janggal dengan istilah wartawan profesional. Wartawan memang seharusnya profesional , Frase “Wartawan Profesional” mengandung kebingungan. Frase ini seolah menimbulkan kesan ketika kata “Profesional” dihilangkan dari kata frase tersebut maka wartawan menjadi tidak profesional.

Mungkin ini sebuah kritikan terhadap frase tersebut, dan orang-orang mungkin kebanyakan mengamininya tentang frase tersebut. Wartawan memang profesional karena pekerjaannya sudah diatur dalam kode etik wartawan Indonesia (KEWI) yang dilandasi oleh Undang-Undang Pers No.40 tahun 1999.

Jika tetap menanyakan mengenai definisi wartawan profesional , maka jawabannya adalah wartawan yang mengerjakan pekerjaannya sesuai dengan ketentuan atau menganut aturan yang berlaku baik Undang-Udang Pers maupu Kode Etik yang dikeluarkan oleh asosiasi Wartawan atau kesepakatan berbagai sosiasi Wartawan yang ada di Indonesia.

Jurnalistik

Untuk melaksanakan pekerjaan atau tugas jurnalistik maka diperlukan pula keahlian jurnalistik yang didapatkan dari pendidikan Khusus. Mengenai definisi maupun syarat wartawan profesional tidak dituliskan secara ekplisit dalam UU Pers maupun KEWI. Pada bab 3 pada UU Pers yang meliputi 2 pasal ( pasal 7 ; tentang wartawan, tidak dituliskan mengenai wartawan profesional, pada bab itu hanya dituliskan mengenai wartawan yang bebas memilih organisasi kewartawanan , mentaati kode etik jurnalistik), dan wartawan mendapat perlindungan hukum dalam menjalankan profesinya dalam tugas jurnalistik.

Terdapat penafsiran mengenai cara-cara profesional itu adalah; penafsiran menunjukan indentitas diri kepada narasumber; menghormati hak privasi , tidak menyuap; menghasilkan berita yang faktual dan jelas sumbernya; tidak merekayasa dalam pemutaran dan pengambilan gambar, foto suara dan atau dilengkapi dengan keterangan tentang sumbernya dan ditampilkan secara berimbang; menghormati pengalaman traumatik narasumber termasuk menyatakan hasil liputan awartawan lain sebagai karya sendiri; penggunaan cara-cara tertentu dapat dipertimbangkan untuk peliputan berita investigasi bagi kepentingan publik.

Untuk menjamin kemerdekaan pers dan memenuhi hak publik dalam memperoleh informasi yang benar, wartawan Indonesia memerlukan pedoman operasional dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakan integritas serta profesionalisme. Atas dasar itu wartawan Indonesia menetap-kan dan mentaati Kode Etik. Jadi mengenai syarat profesionalisme itu ketika wartawan tergabung dan diakui dalam organisasi Pers (Organisasi Wartawan dan Organisasi Perusahaan Pers) yang telah diakui dan disyahkan Dewan Pers.*******


Oleh: I.Rokiin