Sukabumi, SuaraIndependent
Sepi nya Pembeli Di Pasar Pelita Sukabumi dikeluhkan para pedagang yang biasa berjualan setiap harinya, omset yang menurun drastis dan pembeli yang berkurang. Dani yang salah satu pedagang di pasar Pelita sangat merasakan Dampak lemahnya perekonomian saat ini “Kelihatannya Uang susah saat ini sehingga masyarakat tidak mau atau menahan belanja nya, sehingga imbasnya pada kondisi dipasar yang sepi pembeli seperti ini” Papar Dani penjual Sayuran.
Kalau dilihat Secara Makro Pertumbuhan Ekonomi Indonesia dari Data BPS, Konsumsi rumah tangga merupakan penopang pertumbuhan ekonomi Nasional, hanya tumbuh kisaran 4,94%. Dibandingkan dengan kuartal sebelumnya memang lebih tinggi, akan tetapi dibandingkan periode yang sama tahun lalu ada penurunan pertumbuhan yang cukup signifikan.
Pada kuartal II-2016, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,07%. Selanjutnya kuartal III-2016 tumbuh 5,01%, kuartal IV-2016 capai 4,99%, dan kuartal I-2017 tumbuh 4,94%.
“Konsumsi rumah tangga tumbuh Rp 4,95%,” ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Kecuk Suhariyanto. Adapun Restoran dan hotel tumbuh cukup tinggi dengan 5,87%, Kemudian kesehatan dan pendidikan 5,40%, transportasi dan komunikasi 5,32% dan makanan dan minuman (selain restoran) tumbuh 5,24%.
Naiknya Harga Sembako Beras sebagai kebutuhan utama masyarakat sangat memberatkan ditengah kondisi ekonomi yang melemah, saat ini kisaran rata-rata 300.000/ sak @20 kg, atau 11000-12000/Liter Beras nya di pengecer. “Biasanya pada beli beras sekarung tapi kalau sekarang dikurangi sehingga omset pun jadi berkurang.” Ujar H.Muhlis pada media suara independent.
Penyebab ekonomi melemah menurut Kepala BPS (Badan Pusat Statistika) Suryamin disebabkan oleh dua hal penyebabnya adalah dari sisi produksi dan pengeluaran. Hal serupa disampaikan oleh Sri Mulyani selaku Menteri Keuangan, menurunnya tingkat konsumsi dan rendahnya daya beli masyarakat yang terutama terjadi pada mayoritas masyarakat berpenghasilan rendah.
Menurunnya daya beli masyarakat juga dapat dilihat dari penurunan penjualan dibidang ritel lainnya, properti, serta industri bahan makanan dan minuman. Faktor utama penyebab penurunan daya beli yang terjadi adalah disebabkan karena keterbatasan lapangan kerja, meskipun pengangguran tidak meningkat namun banyak masyarakat yang beralih ke sektor informal. Sektor non formal memberikan penghasilan yang tidak memadai. Dengan tidak memadainya penghasilan yang diperoleh maka kemampuan untuk membeli barang barang pun menjadi terbatas sehingga hal tersebutlah yang disebut dengan penurunan daya beli.
Menko Perekonomian, Darmin Nasution, mengakui adanya perlambatan daya beli masyarakat bila dibandingkan dengan kondisi dua tahun yang lalu. Sekarang, pada kuartal II-2017 daya beli yang tergambar dari konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 4,95%.
“Dibanding dua tahun lalu mungkin sedikit melambat,” ungkap Darmin, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (8/8/2017).
Alasannya, kata Darmin yaitu perlambatan ekonomi secara global yang kemudian berimbas kepada situasi nasional.
Selain itu juga, menurunnya nilai rupiah memberi pengaruh terhadap nilai kurs yang terus melemah, Pengaruh ekonomi global juga menjadi salah satu penyebab ekonomi melemah. (Firmans)