SITU CIBEUREUM KOTA TASIKMALYA

Tasikmalaya, suaraindependent,

Kalau membahas tentang tempat wisata pastinya tidak akan ada habisnya, begitu banyak tempat wisata di bumi pertiwi tercinta kita ini, dari sabang sampai merauke terhampar begitu banyak tempat-tempat yang begitu luar biasa indahnya, puji syukur Untuk Zat yang Maha Kuasa.
Dan salah satu Yang mau saya bahas:

Tempat wisata yang berada di Jl.Situ Cibeureum,Tamanjaya,Tamansari,Tasikmalaya,Jawa Barat 46196, Indonesia.

Situ Cibeureum yang berada di kampung Tamansari, Kota Tasikmalaya merupakan salah satu situ yang menjadi kebanggaan warga yang berada di sekitarnya atau pun warga Kota. Dari sudut parawisata sitru Cibeureum inipun bisa di jadikan tempat bersantai meluangkan waktu bersama keluarga, teman, sahabat atau lainnya.

Warga di sekitar juga sangat bergantung, dan sangat bersyukur dengan adanya situ Cibeureum ini karena mata pencaharian kebanyak warga dari pengelolaan sawah dan kolam ikan.
Situ yang berada tidak jauh dari pusat kota Tasikmalaya tersebut dibutuhkan perhatian lebih dari pemerintah setempat, jika pemerintah ada i’tikad serius untuk menjadikan situ tersebut menjadi kawasan obyek wisata andalan. Sehubungan potensi dari situ tersebut memiliki eksotis pesona alamnya yang masih perawan. Tidak lepas dari potensinya yang banyak memberikan manfaat bagi masyarakat sekitarnya, ternyata Situ Cibeureum menyimpan cerita tersendiri. Apalagi di Nusa Pangepulan, yaitu daratan yang berada di tengah-tengah situ tersebut, terdapat sejumlah makam keramat, termasuk makam Ki Bagus Djamri yang konon disebut-sebut sebagai tokoh pertama yang membuat Situ Cibeureum.

Situ Cibeureum pun saat ini dikenal sebagai Bumi Perkemahan yang kerap dijadikan acara kegiatan para kader Pramuka Kota/Kab. Tasikmalaya. Menurut Kuncen Situ Cibeureum, Atang (60), sekitar 500 tahun lalu atau sekitar abad 15 Masehi, tinggallah seorang tokoh tua di era kebataraan Galunggung, yakni seorang tokoh agama jaman Hindu yang dikenal dengan sebutan Ki Bagus Djamri.

Beliau tidak diceritakan asalnya darimana, tetapi berniat menyepi di suatu daerah Pegunungan untuk mendekatkan diri pada sang Maha Kuasa. Tibalah Ki Bagus Djamri itu di suatu tempat yang menurutnya sama persis dengan yang diimpikan, yaitu sebuah pegunungan yang memiliki kolam.

Suatu hari, Ki Bagus Djamri bermimpi bahwa dia harus membuat taman yang penuh dengan bunga-bunga di lokasi dekat kolam. Dalam mimpi itupun, dia harus mendirikan gubuk di suatu bukit yang disebut Nusa “pangepulan” (Perkumpulan).

Ki Bagus Djamri pun melaksanakan perintah yang muncul dari mimpinya itu. Dia membangun sebuah taman, lengkap dengan tempat untuk berkumpul di tempat yang dekat dengan kolam tersebut. Lama kelamaan, kolam tersebut membesar dan air terus melimpah sehingga membanjiri wilayah itu. Namun, bagi Ki Bagus Djamzri karena tinggal disuatu Nusa Pangepulan tadi, dia tidak hanyut dalam air. Air hanya mengelilingi nusa, seperti halnya nusa di Situ Panjalu Ciamis.

Akhirnya, kolam yang tadinya kecil ini membentuk menjadi sebuah situ yang kemudian dinamai Situ Cibeureum. Ki Bagus kemudian mengundang para penduduk lain untuk tinggal di daerah yang berdekatan dengan situ. Bahkan, Nusa Pangepulan yang dulu hanya didiami seorang diri oleh Ki Bagus Djamri mulai ramai didatangi tokoh lain.

Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya sejumlah makam keramat yang mengelilingi makam Ki Bagus Djamri. Keberadaan sejumlah makam itu membuktikan bahwa Nusa Pangepulan ini pernah dijadikan sebagai tempat tinggal.

Tambah atang, di Nusa Pangepulan itu, selain terdapat makam Ki Bagus Djamri, terdapat pula makam Syeh Majagung, Nyi Dambawati, Sugrianingrat, Nyi Ratnaningrum dan Nyi Ratnawulan, dan bangsawan di era Padjadjaran.

Volume air di Situ Cibeureum tidak selalu sama, terkadang di waktu musim kemarau volume airnya surut, tapi genangannya masih terlihat, tidak seperti situ Gede yang betul betul kering nyaris tidak berair. Cukup luas mata dimanjakan, hiliwir angin pun cukup sejuk menyambut dari rimbunan pohon yang tumbuh di sekitar situ. Sepanjang pinggirannya telah dibenteng dengan tembok. Tidak ada lagi pohon kirai di tengah tengah situ, hanya ada beberapa tersisa di pinggiran situ. Persisi seperti situ Sanghyang Cibalanarik kabupaten Tasikmalaya.

Walaupun musim kemarau dan airnya surut, penduduk masih memanfaatkannya untuk mengais rejeki dengan menangkap ikan, menggunakan berbagai alat, seperti pancing, jala, sair dan lain – lainnya. Ikan mujair adalah ikan yang masih banyak didapat di situ Cibeureum. Kata seorang Bapak Aki penduduk dari kampung Sangkali, tidak jauh dari situ Cibeureum, biasanya sekali menjala saat ini sekitar tiga kilo ikan mujair masih dapat. Bahkan dahulu sebelum pinggirnya ditembok bukan hanya ikan mujair yang ada, ikan-ikan lain pun banyak.

Ada hal unik dilakukan masyarakat sekitar situ Cibeureum, yaitu menangkap ikan ramai ramai setiap hari jumat, selepas sholat jumat. Bukan hanya penduduk sekitar situ saja yang datang dan ikut menangkap ikan, tetapi dari luar daerah pun banyak yang datang untuk ikut mengais rejeki menangkap ikan. Hanya sayang ada sebagian oknum masyarakat yang menangkap ikan dengan menggunakan racun tawas.

Selain itu tidak adanya papan penunjuk jalan juga menjadi kesulitan lain bagi pengunjung dari luar untuk menikmati sisi lain keindahan situ Cibeureum.

Semoga Kedepannya Situ Cibeureum Tamansari Kota Tasikmalaya Semakin Berkembang dan semakin Indah, agar bisa lebih di minati dan di nikmati warga Kota atau bahkan dari luar Kota.

I.r/ suaraindependent