POLITIK

POLITIK

Ikut terjun ke dunia politik masih menjadi sesuatu hal yang menarik bagi warga Negara kita.

Suaraindependent.id – Walaupun biaya politik bisa dibilang cukup besar dan berpolitik identik dengan kekuatan modal uang. Kelewat banyak contoh tentang pencalonan legislative, kepala daerah, bahkan calon kepala Desa sekalipun. Yang berujung pada kondisi kejiawaan, selain ongkos politik yang bernominal pantastik, juga telah menciptakan arena para pemburu kekuasaan tanpa sekat demokratis Para petualang politik rela menghabiskan dana yang banyak, demi politik cintraki dan ketika rakyat sudah jenuh dengan janji-janji politik para calon pemburu kekuasaan.

Para petualang politik berebut mencari simpati rakyat. Menebar pesona dengan janji-janji politik demi mencapai cita-cita menduduki singgasana jabatan, sementara politik uang mereduksi manusia menjadi alat kepentingan sesaat. Sehingga tamatlah peradaban demokrasi tanpa diimbangi pendidikan politik atas rakyat, karena keinginan rakyat untuk memiliki pemimpin yang benar-benar aspiratif jujur dan amanah. Tampaknya harus dipikirkan, apalagi para calon pemburu kekuasaan.

Menyiapkan pemimpin tanpa cultural berbasis akar budaya tampaknya menjadi tanda tanya dan mengenal kearifan politik dengan mengandalkan popularitas serta kekuatan uang. Mulai dari rakyat biasa pengusaha bahkan artis yang mempunyai popularitas, sementara trek rekor  politikus muda belum begitu siap dan meyakinkan. Salah satunya terkait pemahaman mereka terhadap bidang kerja yang seharusnya mereka kuasai, terlihat hanya segelintir calon yang memiliki pengetahuan yang memadai.

Baca juga : Bupati Tasikmalaya Menyatakan Kontribusi PAD Bank CIJ Sangat Luar Biasa

lewat keinginan kualitas, jelas-jelas demokrasipun semakin sulit. Kondisi semakin parah ketika mereka sudah menduduki jabatan, dan mereka  lebih mementingkan sesaat dengan mengabaikan kewajiban mereka.

Jarum sejarah terus berputar dan problema bangsa tidak bisa diselesaikan dengan pemungutan suara dan tanpa kearifan masyarakat maka penguasa akan jadi dictator, dalam konteks ini calon penguasa yang telah kehilangan makna sebenarnya. Bapak bangsa telah mengingatkan bahwa suara rakyat adalah suara tuhan dan kedaulatan Negara ada ditangan rakyat dan ketika rakyat ingin menentukan nasibnya. Maka inilah sebenarnya khasanah demokrasi dan yang pasti mengartikan demokrasi bukan hanya amnesty ataupun dinasti.

Atas nama pragmatisme politik dan kekuasaan capital berbagai kearifan local.

Hendaknya harus pandai memilih karena saat ini kedaulatan rakyat sudah dicampakan oleh para politikus yang mengatas namakan kesejahtraan rakyat, sehingga pupus sudah karakter bangsa. Lalu tumbuh keseragaman gaya hidup hingga idealism yang bermuara pada idealisme konstitusi. Satu-satunya benteng terakhir dan gempuran kapital adalah menghidupkan kembali kearifan local.

Bukan nilai yang ditanam paksa penguasa dan bukan hanya menumbuh kembangkan kepemimpinan kultural. Dan jika sebaliknya melenyapkan atas nama demokrasi liberal.

“Apakah ini cara menumbuh kembangkan seputar monarki demokrasi lalu menjadi judi nasib. Dan pemilihan calon penguasa juga telah menciptakan arena judi berbasis demokrasi”.

Endang.S. Kabiro.Kab.Garut/Red.Suara Independent