Dua pemain itu disebut-sebut perekrutan pemain dengan nilai kontrak termahal di Indonesia meski PT Persib Bandung Bermartabat (PBB) tak mengungkapnya.

Suaraindependent.id –¬†Persib Bandung kemungkinan besar merogoh kocek tak sedikit dalam perekrutan pemain untuk musim 2017. Dua pemain asing yang pernah berkiprah di Liga Primer Inggris, Michael Essien dan Carlton Cole, pun didatangkan jelang Liga Satu.

Disebut memiliki nilai termahal bukan tanpa alasan, di situs transfermarkt.com, Cole yang merupakan pemain berkebangsaan Inggris itu memiliki nilai pasar 1,2 juta euro. Sedangkan Essien nilai pasarnya disebut-sebut mencapai 800 ribu euro.

Petinggi PT Persib Bandung Bermarbatab (PBB), Teddy Cahyono, mengatakan, belanja pemain pada musim ini memang berbeda bengan musim sebelumnya. Ia pun menyebut jika angka belanja pemain di musim ini lebih fantastis meski enggan menyebut total nilainya.

Baca juga : Ucapan Essien Untuk Semua Bobotoh Persib

Bukan tanpa sebab, PT PBB sangat royal mendatangkan pemain untuk menyambut Liga 1 Indonesia. Teddy mengatakan, upaya yang dilakukan Persib sejalan dengan niat pemerintah yang ingin meningkatkan kualitas sepak bola Indonesia. PT PBB menilai pemerintah mulai serius dalam memajukan persepak bolaan Indonesia.

“Untuk pertama kalinya, 22 menteri dan presiden bahas bola dalam rapat terbatas. Artinya ini serius. Dengan dukungan dan kepengurusan pssi baru, kondisi sepak bola di Indonesia jadi meningkat. Otomatis dengan kondisi bagus, kompetisi bagus, klub jadi bagus, pemain jadi bagus, timnas bagus, mudah2an bisa main di piala dunia 15 tahun lagi,” kata Teddy.

Di samping itu, Teddy mengakui, pihaknya ingin menorehkan banyak hal dari pengeluaran besar itu. Sebab, pengeluaran yang dilakukan PT PBB sudah direncanakan jauh-jauh hari. Pihaknya pun sudah menghitung untung dan rugi dengan mendatangkan dua pemain asing yang pernah berkiprah di Liga Primer Inggris itu.

“Tidak mungkin kami, besar pasak dari pada tiang. Pasti kami sudah matang rencanakannya seperti apa kedepannya mau kemana. Sudah kami proyeksi,” kata Teddy.

Biaya belanja dan operasional Persib memang masih mengandalkan dana dari sponsor.

Diakui Teddy, sebab, pemasukan terbesar untuk klub sepak bola di Indonesia masih berasal dari sponsor. Sedangkan hak siar, lanjutnya, belum menjadi pemasukan utama klub sepak bola di Indonesia.

“Di luar negeri, pemasukan dari hak siar paling tinggi. Itu yang operator coba usahakan saat ini,” kata Teddy seraya menyebut Persib tak bisa menentukan atau menawar hak siar yang diterima.

Menurutnya, sudah ada aturan dan formula terkait dengan pembagian hak siar. “Hak siar ditentukan ratingnya oleh independet konsultan. Kami terima saja hasilnya, haasilnya seperti apa kami tidak pernah tahu,” kata dia. (cis)