Suaraindependent.id – Seorang laki-laki tua duduk di teras rumahnya.. Rumah yang besar, mewan dan megah.. Namun sepi penghuni.. Istri sudah meninggal.. Tangan menggigil karena lemah.. Penyakit menggrogoti sejak lama.. Duduk tak enak, berjalanpun tak nyaman.. Untunglah seorang kerabat jauh mau tinggal bersama menemani beserta seorang pembantu..

Tiga anak, semua sukses.. Berpendidikan tinggi sampai ke luar negri.. Sekarang ada yang berkarir di luar negri.. ada yang berkerja di perusahaan asing dengan posisi tinggi.. Dan ada pula yang menjadi pengusaha.. Soal ekonomi saya angkat dua jempol.. Semuanya kaya raya..

Namun.. Saat tua seperti ini dia “Merasa hampa”, ada “Pilu mendesak” di sudut hatinya.. Tidur tak nyaman.. Dia berjalan memandangi foto-foto masa lalunya, ketika masih perkasa dan energik yang penuh kenangan.. Foto laki-laki gagah dengan keluarganya berlatar belakang Great wall,effel Tower, Big ben, Sydney Opera House. Dan berbagai belahan bumi lainya yang telah di jelajahinya.. Di abadikan dengan foto di bingkai bagus yang tak mampu lagi di lihat kareana. Pandangannya sudah mengabur”.

Dirumahnya yang besar dia merasa kesepian, tiada suara anak cucu. Hanya detak jam dingding yang berbunyi secara teratur. Punggungnya terasa sakit, sesekali air liurnya keluar dari mulutnya. Dari sudut mata ada air yang menetes, rindu di kunjungi anak-anasknya. Tapi semua anaknya sibuk dan tinggal jauh di kota atau negara lain.. Ingin pergi ketempat ibadah namun badan tak mampu berjalan, sudah terlanjur lemah. Begitu lama waktu ini bergerak, tatapanya hampa,jiwanya kosong. Hanya gelisah yang menyetuak, sepanjang waktu.

  • Laki-laki renta itu, barangkali adalah saya.
  • Atau barangkalai adalah anda yang menbaca tulisan ini suatu saat ┬ánanti.
  • Hanya menunggu sesuatu yang tak pasti.
  • Yang pasti hanyalah KEMATIAN.

 

  • Rumah besar tak mampu menyenangkan hatinya.
  • Anak sukses tak mampulagi menyejukan rumah mewah yang ber AC.
  • Cucu-cucu yang seperti orang asing bila datang.
  • Asset-asset produktif yang terus menghasilkan, entah untuk siapa.?

Kira-kira jika datang malaikat”datang menjemput” akan seperti apa kematian nanti.

  • Siapa yang akan memandikan ?
  • Dimana akan di kuburkan ?
  • Sempatkah anak kesayangan dan menjadi kebanggaannya datang mengurus jenazah dan menguburkan ?
  • Apa amal yang akan di bawa ke akhirat nanti ?
  • Rumah akan di tinggal, asset juga akan di tinggal.

 

  • anak-anak entah akan ingat berdo’a untuk kita atau tidak ?
  • Sedang ibadah mereka sendiri belum tentu di kerjakan ?
  • Apalagi jika dulu anak tak sesuai tuntunan agama ?
  • Ilmu agama hanya sebagai sisipan saja.

‘Kalaulah sempat’ Menyumbang yang cukup berarti di tempat ibadah. Rumah yatim, panti asukan atau ke tempat-tempat di jalan allah lainnya.

‘Kalaulah sempat’ Dahulu membeli sayur dan melebihkan uang pada nenek tua yang selalu datang.

‘Kalaulah sempat’ Memberikan sandal untuk di sumbangkan ketempat ibadah agar di pakai oleh orang yang memerlukan.

‘Kalaulah sempat’ Membelikan buah buat tetangga, kerabat, tetangga dan handai taulan.

‘Kalaulah kita tidak kikir pada sesama, mungkin itu semua akan menjadi’ amal penolongnya.

Kalaulah dahulu anak di siapkan menjadi ‘Orang yang shaleh’ dan ‘ilmu agamanya’ lebih di utamakan. Ibadah dan sedekah di bimbing/diajarkan dan di perhatikan, maka mungkin senantiasa akan’terbangun malam’,’meneteskan air mata’ mendoakan orang tuanya.

Kalaulah sempat membagi ilmu dengan ikhlas pada orang sehingga bermanfaat bagi sesama.

“KALAULAH SEMPAT”

Mengapa kalaulah sempat ?

Mengapa itu semua tidak jadi perhatian utama anda ? sungguh kita tidak adil pada diri sendiri. Kenapa kita tidak lebih serius ‘Menyiapkan bekal’ untuk menghadap-NYA, dan ‘Mempertanggung jawabkan’ Kepadanya ?

Semoga tulisan ini menjadi nasihat bagi kita semua khususnya bagi yang sudah berstatus “SIMATUPANG” (Siang Malam Hanya Tunggu Panggilan) dekatkan diri kepada-NYA sejak usia muda. Bersungguhlah mempersiapkan diri menghadapi kematian, dan kehidupan akhirat yang kekal abadi.

Jangan terbuai dengan kehidupan dunia yang bisa melalaikan. Kita boleh saja giat berusaha di dunia, tapi jadikan itu untuk bekal kita pada perjalanan panjang, dan kekal di akhir hidup kita.

Yang menulis dan menyebarkan catatan ini,semoga menjadi sodaqoh ilmu dan ladang amal shaleh. Selamat beristirahat dan solat malam.

J.k (Aa Jaka)/Red. Suara independent.