Pencurian, perdagangan jenazah wanita di Negara china, sangat meresahkan warga, yang memiliki anggota keluarga yang sudah meninggal berjenis kelamin wanita.

Suara Independent. Praktik nikah arwah yang telah dilarang pada 1949 oleh pemerintah China masih terus terjadi di pedesaan-pedesaan terpencil di Negara Tirai bambu, terutama di utara negara tersebut.

Dikutip dari South China Morning Post pada Jumat (8/4/2017), lembaga berita Xinhua milik pemerintah China tersebut memuat laporan adanya pasar gelap jual beli jasad wanita yang kemudian dikuburkan bersama dengan jenazah seorang pria yang statusnya lajang.

Demi meneruskan kebiasaan ‘nikah arwah’ itu. Keluarga bahkan rela mengeluarkan ratusan ribu yuan untuk mendapatkan jasad wanita yang diperlukan.

Perdagangan itu pun menjadi bisnis menggiurkan bagi para penjahat yang menyanggupi mencarikan jasad wanita untuk di jual kepada pihak jenazah laki-laki yang berstatus lajang. Bahkan terkadang mereka berniat hingga membunuh seseorang.

Menurut laporan

Menurut laporan Xinhua, di Hongtong. Sebuah kabupaten berpenduduk 760 ribu orang di Provinsi Shanxi, ada 27 jasad wanita yang dilaporkan telah dicuri sejak 2013 terakhir.

Tapi angka sebenarnya kemungkinan jauh akan lebih besar lagi. Karena ada saja penduduk desa yang merasa malu melaporkan kepada pihak berwenang perihal kehilangan jasad kerabat mereka tersebut.

Dalam festival bersih-bersih makam (Ching Ming) tahun lalu. Seorang warga Zhang Gainong, mengeluarkan uang sekitar 180 ribu yuan. Untuk membeli jasad wanita muda agar dikuburkan bersama dengan jasad putranya tersebut.

Pria itupun terkadang harus memeriksa kuburan putranya. Untuk memastikan jasad wanita muda tersebut tidak dicuri untuk dijual kembali oleh para pencuri jasad wanita.

Seorang warga lain yang bernama Jing Gouzi pada 2015 membayar 3.000 yuan. Untuk sesosok jasad wanita yang kemudian dipasangkan dalam kuburan bersama dengan jasad abangnya. Padahal, GDP per kapita di pedesaan hanya sedikit di atas 8.000 yuan. Jelaslah harga jasad itu menjadi beban finansial.

Xing Xueli, istri Jing, mengatakan. “Kami bilang cukuplah dengan membuat jasad tiruan, tapi kaum tetua di desa kami membantahnya dan mengatakan itu menjadi contoh buruk bagi anak-anak kami kelak”.

Sejak 2012, pengadilan-pengadilan pidana China telah membuat keputusan terhadap lebih dari 40 kasus ‘nikah arwah’. Pada Desember lalu, Pengadilan Kabupaten Hongtong menjebloskan dua pria warga Linfen ke penjara karena telah ‘melecehkan jasad’.

Dokumen Pengadilan

Menurut dokumen pengadilan, pada 2012, Qiao Yuxi menjual sesosok jasad wanita melalui perantara bernama Zhang Jianwei kepada seorang warga desa. Jasad itu dibayar 8.800 yuan, sedangkan Zhang mendapatkkan bagian sebesar 2.100 yuan.

Untuk mencegah para penjarah makam. Beberapa warga desa secara bergantian tidur di sisi makam kerabat wanita selama beberapa minggu lamanya. Sebagian lagi menggunakan beton untuk makam dan bahkan ada juga beberapa warga yang kemudian membangun makam dalam desa-desa mereka.

Demikianlah artikel tentang  jual beli jenazah wanita muda di negara tirai bambu tersebut. Semoga dengan di terbitkannya artikel ini bisa menambah pengetahuan kita semua. Nantikanlah artikel-artikel selanjutnya.

Artikel ini kami kutip dan kami kembangkan dari berbagai sumber.

Baca juga: Objek Wisata Rumah Batu di Tasikmalaya

 

Irfan.P./Red. Suara Independent.