Perbatasan bagian utara |- sumber google

Perbatasan bagian utara |- sumber google

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mendeteksi besarnya kerentanan penyelundupan senjata api kelompok Terorisme

Suara Independent, Hal itu diperkuat oleh temuan PPATK berupa sejumlah transaksi bernilai cukup Pantastis yang dilakukan warga negara Indonesia ke Filipina. Namun pihaknya juga belum bisa memastikan bahwa transaksi itu berkaitan dengan tindak pidana terorisme atau tidak. Karena itu, PPATK kini sedang bekerja sama dengan anggota kepolisian untuk guna penyelidikan.

“Persoalan Terorisme ini tak mudah. (PPATK) baru bisa mendeteksi dengan jelas jika menerima daftar nama terduga teroris dari pihak kepolisian, kemudian kami selidiki,” kata Firman saat ditemui, Jumat 24 Maret 2017.

Persoalan teroris jaringan Indonesia dan Filipina tersebut kembali menjadi sorotan setelah Detasemen Khusus Densus 88 menangkap delapan orang terduga teroris di tiga tempat yang berbeda, diantaranya Bekasi, Tangerang Selatan, dan Banten, Kamis lalu. Polisi menangkap SI(42) di Hotel Lafa Park Family Adventure, Cikarang Timur, Bekasi. Dia diduga berperan aktif dalam hubungan dengan kelompok teroris di Filipina Selatan. Dalam relasinya tersebut, si pelaku yang berasal dari Filipina ini diduga telah membeli dan menyelundupkan sejumlah senjata api ke Indonesia melalui perbatasan bagian utara. Salah satunya adalah pistol yang digunakan teroris dalam serangan bom di jalan Thamrin.

Baca juga: Keindahan Panorama Pantai Cipatujah Tasikmalaya

Densus 88 kemudian menangkap salah satu pelaku BP(55) di sebuah bengkel di daerah Ciputat, Tangerang Selatan. BP diduga bersama SI ikut dalam pelatihan militer di Filipina Selatan. Dua terduga terorisme ini ditangkap di Pandeglang, Banten, yaitu MI(56) dan AD(43). Sedangkan empat lainnya adalah AS(46), IW(56), OM(39), dan NK(47) di daerah Cilegon.

Berdasarkan informasi yang kami kumpulkan, (PPATK) kerap memasok hasil penelusuran transaksi mencurigakan milik warga negara Indonesia(WNI) yang melakukan transaksi ke organisasi atau perorangan di Negara Filipina Selatan. (PPATK) juga menduga transaksi tersebut termasuk jual-beli senjata api dari milisi di Filipina Selatan.

Ihwal peran (PPATK) dalam pengungkapan jaringan transaksi besar-besaran teroris tersebut, Firman enggan berkomentar. Tunggu saja hasil perkembangan dari polisi yang bertugas,” ujar Firman.

Kepala Bagian Umum Mabes Polri

Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri, Komisaris Besar Martinus Sitompul, mengatakan Densus 88 tengah memeriksa secara intensif tujuh terduga pelaku teroris yang ditangkap. Satu terduga pelaku teroris, NK(47), meninggal setelah ditembak akibat melawan saat tim Densus 88 melakukan penyergapan.

Martinus mengatakan, polisi memiliki bukti bahwa SI(42) sebagai pendana dan pemasok senjata dalam aksi teror bom Thamrin. Suryadi dan Nanang memiliki hubungan dengan kelompok teroris di selatan Filipina. “Suryadi dan Nanang yang membeli langsung senjata-senjata yang di pakai untuk aksi terorisme nya tersebut  dari Filipina,” kata dia.

Sebelumnya, Direktur Pemeriksaan dan Riset PPATK Irvan Yustiavandana mengatakan aliran pendanaan kegiatan terorisme memiliki dua arus. Di satu sisi ada aliran dana dari luar negeri yang masuk ke Indonesia, di sisi lain juga ada aliran dana dari warga negara Indonesia yang dikirim untuk membiayai aksi teror di negara lain. “Saya tak bisa bilang secara detail siapa, apa, dan berapa. Tetapi jumlahnya sangat banyak,” Ujar Irvan.’’Pungkasnya. Artikel ini kami kutip dan sa,i kembangkan dari berbagai sumber.

 

I.P. Red. Suara Independent.

Baca juga: Tasikmalaya Hari Ini : Truk Pengangkut Kayu Terbalik