YAYASAN ALSA PEDULI, kami dirikan agar anak blora yang cerdas, pintar dan berprestasi dibuktikan dengan masuknya mereka di Perguruan Tinggi

Suara Independent. YAYASAN ALSA PEDULI, kami dirikan agar anak blora yang cerdas,  pintar dan berprestasi. Dibuktikan dengan masuknya mereka di Perguruan Tinggi Negeri dari Jalur SNMPTN & SBMPTN dari berbagai sekolah di Blora, bisa melanjutkan pendidikannya di bangku Perguruan Tinggi.

Kami berharap, dengan mengantarkan anak-anak Blora yang cerdas namun tidak mampu  lulus perguruan Tinggi dan menjadi sarjana. Mereka bisa mengubah kehidupan diri, keluarga dan orang-orang di sekitarnya kelak.

Di tahun ini, YAYASAN ALSA PEDULI, yang kami dirikan mendapat permintaan bantuan pembiayaan kuliah dari 14 anak cerdas namun dengan keadaan Kurang mampu yang berhasil di terima di Perguruan Tinggi Negeri di seluruh Indonesia.

Berikut data 3 orang anak berhasil di terima di Perguruan Tinggi Negeri

  • Alvira Zulfa, 18 Tahun, berhasil diterima di S1 UNDIP Jurusan administrasi bisnis.

Alvira merupakan anak perempuan dari keluarga sederhana, Kedua orang Tuanya bekerja sebagai pedagang di pasar tradisional, yang hanya menghasilkan beberapa ratus ribu rupiah perbulan,.

Di tengah keadaan ekonomi yang sangat terbatas, Alvira tetap berani bermimpi untuk kuliah di Undip dan mengangkat keadaan ekonomi keluarganya.

Baca juga: Tasikmalaya Hari Ini : Truk Pengangkut Kayu Terbalik

Mukti Hapsari, 18 tahun, diterima di S1 farmasi UNAIR

Mukti Hapsari merupakan bukti nyata bahwa keinginan dan tekad  adalah kunci dari subuah kesuksesan. Mukti Hapsari dibesarkan hanya oleh ibunya, karena ayahnya telah meninggal sejak ia masih kecil, mirisnya Ibunda Mukti Hapsari hanyalah seorang Pembantu Rumah Tangga (PRT), yang hanya berpenghasilan 500 ribu perbulannya.

Segalanya tampak berat baginya, namun perjuangan Mukti dan ibunya, berhasil mengantarkannya masuk S1 farmasi Unair,Inilah kisah Inspiratif perjuangan dari anak berusia 18 tahun yang bernama Mukti Untuk bisa sekolah ke perguruan tinggi.

  • Luluk, 18 tahun, diterima di FE UI

Luluk telah membuktikan bahwa modal bukanlah salah satu faktor utama untuk menuju sebuah kesuksesan. Ayah Luluk hanya berpropesi sebagai penjual kopi di warung Kopi kecil di depan rumahnya sendiri. Tetapi itu tidak meredupkan semangat Luluk dalam mewujudkan cita-citanya. Sedangkan ibunya bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT), tetapi keterbatasan Ekonomi tidak menjadi suatu penghalang Impian Luluk untuk berkuliah di UI.

Ketiga kisah diatas hanyalah sebuah gambaran supaya kita tidak boleh berputus asa dengan segala kekurangan yang kita alami sekarang ini, kejarlah cita-cita kita setinggi mungkin agar kita bisa mencapainya.

Demikianlah artikel yang kami sampaikan mudah-mudahan artikel ini bisa bermanfaat bagi diri saya pribadi umumnya untuk kita semua nantikanlah artikel-artikel lainnya. Artikel ini kami kutip dan kami kembangkan dari berbagai sumber.

 

I.P/Suara Independent.

Baca juga: Hubungan Kode Etik dan Undang-Undang Pers