Mataram kini tengah heboh akan tingkah Sabar Nababan, dosen di salah satu Universitas kota tersebut yang di FB (Facebook) mengklaim diri sebagai Tuhan dan menciptakan agama baru yang dinamakan Angkasa Nauli. Bahkan lebih jauh dirinya telah mempersiapkan sebuah kitab suci yang dinamakannya, “kebenaran”. Sementara itu, Pemerintah Kota Mataram, NTB, sebagaimana dilansir kicknewstoday (20/03) sudah merespon dengan cepat untuk menangani persoalan itu. “Alhamdulillah, ketika informasi ini tersiar lewat jejaring sosial FB, tim pemerintah kota dengan aparat TNI/Polri langsung bertindak cepat, dan sekarang ini aparat telah menangani permasalahan ini dalam aturan yang berlaku,” tutur Asisten I Setda Kota Mataram Lalu Martawang di Mataram, Senin (20/3). Selain itu diapun menjelaskan bahwa Agama “Angkasa Nauli” yang di deklarasikan pada jum’at 17 Maret 2017 lalu ini sejenis sempalan dari ajaran Agama Kristen.

Informasi yang didapat dari Isri Sabar Nababan, Rawato Purba adalah kalau Nababan baru keluar rumah sakit jiwa dan masih terganggu syarafnya. Sebagaimana yang dilansir pula oleh nasional.republika (20/03) bahwa Sabar telah menderita skizofrenia sebelumnya. Seorang mahasiswanya, Edi Wiranata, upload informasi pada FB pribadinya mengenai kondisi Sabar.

“Pengamatan kami di tahun-tahun pertama sebagai mahasiswa elektro yang dalam seminggu bertemu Pak Sabar 3SKS pada mata kuliah kalkulus adalah berperangai baik, sabar seperti namanya, dan kerap memberikan bonus pada mahasiswa jika berhasil menyelesaikan soal,” kata Edi, Senin (20/3).

Mahasiswa menilai dosen ini sebagai penganut agama yang taat. Hal itu terbukti dari status-statusnya di media sosial ketika belum mengaku menjadi Tuhan yang kerap mengutip isi injil. “Berkaitan dengan postingannya yang belakangan ini, menurut kami adalah berdasar pada penyakit yang beliau derita,” tutur Edi merujuk pada penyakit skizofrenia. Hal ini, kata dia, diketahui dari teman anaknya yang mengungkapkan kalau Sadar menderita sindrom skizofrenia.

Skizofrenia merupakan gangguan mental kronis yang bisa membuat para penderitanya alami delusi, halusinasi, pikiran kacau, dan perubahan perilaku. Kondisi yang umumnya berlangsung lama ini kerap diartikan sebagai gangguan mental mengingat sukarnya penderita membedakan antara kenyataan dengan pikiran sendiri.

Penyakit ini pun dapat diidap oleh siapa saja, baik laki-laki atau juga perempuan. Pada usia 15-35 tahun adalah usia yang paling rentan mengalami kondisi ini. Penyakit ini diperkirakan diidap oleh satu persen penduduk dunia sebagaimana di jelaskan di web AloDokter. Adapun penyebab Skizofrenia sebetulnya belum diketahui dengan pasti. Kondisi ini diperkirakan berisiko terbentuk oleh kombinasi dari faktor psikologis, fisik, genetik, dan lingkungan.