Bayi perempuan dengan kondisi fisik tanpa tempurung kepala lahir di RSUD Sekarwangi Sukabumi, Jawa Barat. Kedua orang tuanya Herman (42) dan Yenis (23) mengaku pasrah dengan kondisi anak ketiganya itu.

Suaraindependent.id – Ditemui di ruang perawatan RSUD Sekarwangi, warga kampung Pajagan RT 6 RW 3 Desa/Kecamatan Parakansalak itu berharap ada keajaiban tuhan yang membuat anaknya tetap bisa bertahan dan tumbuh dan berkembang seperti bayi pada umumnya. Namun ia akan menerima apapun keputusan Tuhan untuk kebaikan putrinya itu.

“Anak saya ini lahir prematur, melihat kondisinya saat ini saya enggak tega. Saya cuma bisa berdoa Ya Allah, meski ada keterbatasan fisik semoga kelak pertumbuhannya normal. Jika kehendak tuhan berkata lain saya pasrah,” lirihnya seraya meneteskan air mata.

Proses Yenis melahirkan bayi Nuaraeni dilakukan secara normal dan seluruh biaya melahirkan hingga perawatan seluruhnya ditanggung BPJS Kesehatan. Kabar yang diterima Yenis dari tenaga medis rumah sakit kondisi kesehatan putrinya yang lahir secara prematur itu semakin menurun.

“Pihak rumah sakit Alhamdulillah memperlakukan kami dengan baik, mulai saat sebelum melahirkan sampai saat ini putri saya dirawat menggunakan inkubator karena ketika lahir beratnya hanya 1,3 kilogram,” lanjut Yenis.

Dikofirmasi terpisah, Humas RSUD Sekarwangi Ramdansyah menyebut jika penanganan bayi Nuraeni dilakukan pihaknya dengan maksimal. Namun berdasarkan pengalaman, dengan keadaan tanpa tempurung dan prematur dengan berat hanya 1,3 kilogram kecil kemungkinan bayi tersebut akan bertahan.

“Saat ini kami hanya bisa menguatkan keluarga si bayi, kami melakukan pendekatan kekeluargaan memberikan penjelasan berdasarkan pengalaman medis di rumah sakit meski kondisi bayi itu lahir dengan kondisi berat normal (tidak prematur) namun tanpa tempurung kepala sudah bisa bertahan seminggu saja sudah bagus. Namun bayi ini ajaib saya bilang, bisa bertahan selama tiga minggu meski kondisinya prematur,” jelas Ramdan.

Menurut Ramdan, dari informasi tim medis yang menangani kelahiran bayi Nuraeni diketahui jika saat ibunya mengandung kurang mendapat asupan gizi dan vitamin yang cukup.

Baca juga : Kemiskinan Bukanlah Hal Utama Menjadi Penyebab Putus Sekolah

“Saya nasehati ibu Yenisnya, saya bilang ibu jangan khawatir ibu kan punya BPJS jangan ragu kalau mau konsultasi dengan ahli gizi dan mendapat vitamin yang cukup jika nanti merencanakan kehamilan berikutnya. Nah diharapkan nanti bu Yenis ini paham pentingnya persiapan saat kehamilan menjelang kelahiran dan rajin melakukan pemeriksaan rutin,” beber Ramdansyah.

Ramdansyah menyebut jika pasutri Herman dan Yenis berasal dari keluarga pra sejahtera. Herman berprofesi sebagai buruh tani serabutan, sementara Yenis tinggal dirumah.

“Secara pelayanan kami tidak membeda-bedakan, saya juga jelaskan ke keluarga Bu Yenis nya mereka tidak khawatir. Apa yang kami jelaskan terkait kondisi bayi mereka itu berdasarkan pengalaman yang pernah kami tangani, perawatan akan tetap maksimal,” tutupnya. Dikutif dari berbagai Sumber.